BELAJAR DARI COVID-19


COVID-19 dan dampaknya selama lebih dari 9 bulan ini mengajarkan banyak sekali hal kepada manusia. Sayangnya, tidak semua orang bisa belajar dari pengalaman tidak menyenangkan seperti ini.

Yang sekarang banyak kita dengar adalah orang-orang yang menggerutu dan marah-marah karena ekonomi sulit, tidak bisa keluar, dan sebagainya. Padahal, dalam hal apa pun, selalu ada sisi positif dan negatifnya.
Pertama, dengan adanya COVID-19 kita belajar untuk hidup bersih. Cuci tangan menjadi lebih rajin, apalagi orang Indonesia di beberapa tempat masih sangat suka makan dengan tangan--maksudnya tanpa sendok-garpu. Selain itu, jika terpaksa keluar rumah, begitu kembali langsung mandi dan berganti pakaian. Kita juga jadi rajin berjemur agar virus tidak dapat hidup lama. Untungnya kita tinggal di daerah tropis yang berkelimpahan sinar matahari. Bayangkan negara-negara empat musim, apalagi seperti Australia yang akan memasuki musim dingin. Orang di sana harus ekstra bersih karena tanpa cukup matahari, virus tidak mudah mati.
Jadi, menjaga kebersihan adalah sebuah keharusan dalam kehidupan baru kita dengan COVID-19. Jangan malas mandi dan mencuci rambut. Kalau setiap orang bisa menjaga kebersihan dirinya, tidak sulit kok menjaga kebersihan untuk komunitas yang lebih besar.
Pembelajaran lain adalah solidaritas sosial kita. Akibat dirumahkan, banyak orang, terutama pekerja harian yang kesulitan bekerja. Apalagi dengan pembatasan di sana-sini, sopir angkot pun menurun drastis penghasilan hariannya. Banyak yang kemudian terpaksa menggelandang karena tidak mampu menyewa kos. Juga driver ojek online yang kehilangan pelanggannya. Belum lagi krisis masker, hand sanitizer, dan APD untuk petugas medis.
Pada saat itulah banyak bantuan datang. Mulai dari makanan, pakaian layak pakai, susu balita, dan sebagainya. Bahkan bagi pemakai ojek online seperti saya jadi lebih rajin memberikan tips atau memesankan makanan yang sama dengan pesanan kita untuk driver-nya. Seorang rekan bercerita bagaimana komunitasnya menggalang bantuan untuk membuat faceshield bagi tenaga kesehatan. Yang lain lagi bersama teman-teman sekomplek memasak untuk berbuka puasa tukang ojek. Beberapa tayangan di media sosial menangkap kepedulian masyarakat dengan menggantungkan bahan makanan di tempat umum agar bisa diambil oleh mereka yang membutuhkan. Ternyata ada sangat banyak kebaikan yang masih bisa dilakukan. 

Learn From Home (LFH)
Pembelajaran lain yang tidak kalah serunya adalah Work From Home (WFH) dan Learn From Home (LFH), yaitu belajar dan bekerja dari rumah. Kondisi ini awalnya ditunjuk sebagai biang kerok mundurnya perekonomian kita. Kita pun belajar bahwa pergerakan kita sehari-hari adalah pemutar roda ekonomi yang sangat penting. Tapi, tentunya harus dicari jalan keluar. Jika satu kelas di setiap sekolah berisi 40-an siswa, seberapa besar potensi lonjakan penyebaran COVID-19? Maka LFH, untuk sementara, masih sangat penting.
LFH, khususnya, sempat menghebohkan para orang tua yang biasa “menitipkan” anak-anaknya di sekolah. Tiba-tiba mereka sekarang harus mengajari anak-anaknya di rumah. Lalu beberapa pun berang, sudah mahal membayar uang sekolah, kok masih mereka juga yang harus mengajari anak-anak.
Setidaknya COVID-19 mengajari hal lain: anak tetaplah tanggung jawab orang tua. Mengapa berani punya anak kalau tidak berani menjadi pendidiknya? Yang harus dipertanyakan adalah bagaimana menghadapi materi yang tidak dipahami orang tua. Misalnya, jika tidak bisa Fisika, orang tua wajib mencari cara lain agar bisa mengajari anaknya Fisika. Entah dengan belajar sendiri, atau konsultasi kepada guru, atau dengan cara lain. Setiap orang pasti akan menemukan cara yang paling tepat untuk kondisinya.
Bahkan untuk pendidikan tinggi, pembelajaran jarak jauh juga masih asing. Satu-satunya universitas yang cepat tanggap saat menghadapi COVID-19 dan LFH-nya adalah Universitas Terbuka. Bahkan saat ini, mereka rajin menggelar berbagai seminar daring untuk mengajarkan kampus-kampus lain mengelola pembelajaran jarak jauh.
Sebagai lulusan Universitas Terbuka, mau tidak mau saya merasa beruntung. Sebagaimana saya dulu belajar mandiri, sekarang pun saya mengajar secara mandiri. Tepat pada hari dimulainya LFH, saya sudah siap dengan serangkaian aturan baru untuk belajar jarak jauh. Bagi saya, mengajar online atau offline, tidak ada bedanya: pengajar dan siswa harus sama-sama mandiri.
Tantangannya bagi saya bukan pada proses belajar-mengajar itu sendiri, tetapi pada koneksi internet yang tidak merata bagi semua orang. Hal ini bukan saja urusan kualitas bandwith tetapi urusan ekonomi dalam hal pembelian paket. Saya agak heran mengapa provider belum menyasar mahasiswa untuk paket internet belajar di rumah. Padahal, mereka inilah yang sudah banyak menggunakan ponsel cerdas untuk berkegiatan sehari-hari. Mestinya tidak jauh berbeda dengan paket internet untuk bermain game daring, seharusnya pelajar dan mahasiswa bisa mendapatkan paket internet untuk belajar jarak jauh.


Work From Home (WFH)
Meskipun sudah lama kita tahu bahwa beberapa jenis pekerjaan dapat dilakukan dari rumah, kalau bukan karena COVID-19, kita tidak akan pernah melakukannya--dengan penuh kesadaran. Sejak WFH pertengahan Maret lalu, apa yang dirasakan?
Bagi mereka yang melaju dari pinggiran Jakarta setiap hari, 2-3 jam sekali jalan--dua kali sehari, yang jelas adalah penghematan waktu. Dan, penghematan tenaga. Kok tenaga? Iya, dalam perjalanan selama 2 jam, entah itu mengemudi atau tidak, ternyata menguras tenaga kita. Buktinya, dengan menghemat waktu dan tenaga, selama WFH banyak yang punya waktu untuk memikirkan dan melakukan hal lain. Misalnya, jadi punya waktu untuk memikirkan menu masakan, untuk menata ulang dekorasi di rumah, untuk melakukan hobi, dan lain-lain.
WFH menimbulkan kesulitan tersendiri karena beberapa hal. Pertama, jenis pekerjaan. Harus diakui bahwa tidak semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah. Kedua, kondisi rumah. Tidak banyak yang siap dengan sebuah ruang di rumahnya yang khusus untuk bekerja atau belajar. Kita mengandalkan ruang-ruang yang ada: ruang tamu, ruang keluarga, atau paling tidak di kamar. Maka, tidak heran video conference dengan kantor atau dengan kampus kerap dihiasi dengan anak yang berjumpalitan atau dengan suara keributan sebagai latar belakangnya.
Ketiga, jaringan internet. WFH selama beberapa bulan ini adalah indikator kuat mengenai kebutuhan jaringan internet yang terjangkau dan stabil. Karenanya, menurut saya ini adalah peluang yang cukup baik bagi penyedia internet di Indonesia.
Mengambil Manfaat Pandemi Ini
Cobalah berhitung bukan hanya apa yang tidak bisa kita lakukan selama WFH--main ke mal, rumpi dengan teman, arisan, dll--tetapi juga apa yang bisa kita lakukan selama WFH. Kalau saya, terhitung sejak 16 Maret, selain mengajar rutin saya juga bisa menyelesaikan buku travelling kedua, mulai mengerjakan proposal disertasi, menata ruang kerja, menghias rumah dengan bunga, berkebun, membaca buku, memasak--walaupun tidak bisa diharapkan setiap hari, dan olahraga. Nah, banyak bukan yang masih dapat dikerjakan?
Saya justru merasa masih kurang waktu kalau melihat mahasiswa saya sempat mengunggah aneka cara make up dan mempromosikan aneka masker setiap beberapa hari sekali. Saya kok WFH 2 bulan lebih bahkan tidak sempat maskeran, ya? Saya tidak mengalami masalah dengan WFH dan bukannya kekurangan kegiatan selama ini. Tetapi memang, kebiasaan nongkrong dan bersosialisasi di mal yang tidak dapat dilakukan, dan karena sehari-harinya berada di rumah, bisa saja kemudian menjadi sedikit depresi dan lebih mudah emosi. Menurut ilmu saya, hal itu wajar terjadi, kok.
Supaya tidak cepat emosi, kita harus mencari cara cerdas untuk memanfaatkan waktu selama pandemi ini. Rebahan lebih dari satu bulan juga tidak baik bagi kondisi fisik kita. Seorang teman menyarankan untuk mengikuti berbagai seminar daring. Saya sangat setuju dan sudah mencoba berbagai cara untuk mengikuti kegiatan tersebut. Jika tergolong milenial yang akrab dengan berbagai aplikasi, cobalah Ngampooz, QuBisa, atau Great Course Plus. Kita bisa menemukan berbagai seminar menarik. Banyak yang gratis, pula.
Tapi seandainya pun berbayar, menurut saya juga tidak masalah. Toh, kita memang mendapat ilmu atau wawasan baru. Menurut pengalaman saya, biayanya tidak akan terlalu mahal, kok. Tidak semuanya bisa gratis, bukan?
Yang penting, pada masa dimana kita menghentikan banyak kegiatan seperti sekarang, jangan sampai kita tidak berbuat apa-apa. Pada akhirnya, diri sendiri yang rugi. Ketika saatnya kembali beraktivitas--meskipun dengan kondisi new normal--kita tidak bertambah kemampuan sedikitpun sementara orang lain sudah mengembangkan diri melalui berbagai cara belajar selama pandemi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

GEOMETRI DIMENSI TIGA